Krisis Ekonomi global saat ini dipicu sifat rakus para kapitalis Amerika Serikat dan eropa dan ingin meraup dana – dana internasional agar diparkir ditempat mereka. Dengan dukungan pemerintah melalui lembaga –lembaga keuangan dan perbankan mereka menggagas berbagai fasilitas dan derivative transaction dengan nama yang menarik disertai bungan ( riba ) serta jaminan asuransi.
Salah satu fasilitas tersebut adalah subrime mortgage yaitu memberikan kredit perumahan kepada debitur yang kurang layak bahkan tidak layak bagi fasilitas tersebut. Ini dimotori oleh Washington Mutual dan secara rakus diikuti oleh berbagai transaksi derivatives sebagai tindak lanjutnya. Fasilitas kredit tersebut dijual kepada Fani Mae dan Freddy Mac, akhirnya surat utang fasilitas kredit perumahan ( subrime ) gagal bayar dan terjadi kredit macet, maka dimulailah apa yang disebut dengan global financial crisis yang bukan saja melanda AS tapi menjalar keberbagai belahan dunia. Dunia samapi hari ini masih didominasi oleh sistem ekonomi kapitalis yang secara radikal telah berubah menjadi neoliberalisme ystem ( sistem neoliberal ) yang nyaris semua negara memakai sistem tersebut termasuk Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Muslim. Sistem ekonomi kapitalis ini menyerahkan kedaulatan ditangan mekanisme pasar bebas yang katanya diatur oleh tangan yang tidak terlihat ( invisible hand ) dijiwai oleh semangat berkompetensi dan memakai hukum rimba.
Sejarah telah mencatat bahwa sistem ekonomi kapitalis bukan saja telah gagal mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan, namun sebagai biang kerok bencana, kesengsaraan dan penderitaan umat manusia pada umumnya. Krisis ekonomi yang berlangsung saat ini menurut kalangan para ahli ekonomi dan pemimpin baik dari AS dan Eropa adalah yang terburuk sepanjang sejarah, bahkan lebih buruk dari peristiwa Great Depression yang menyerang AS akhir dekade 1920-an.
Saatnya Kembali Ke Ekonomi Syari’ah
Sistem ekonomi konvensional yang telah gagal, bahkan telah menimbulkan kesenjangan, malapetaka dalam kehidupan masyarakat dan bangsa, menimbulkan krisis dan bencana serta menebar virus sekularisme, sudah barang tentu merupakan suatu sistem yang amat tidak patut untuk dipertahankan dan dipraktekan, apalagi di negri muslim terbesar di dunia. Oleh sebab itu, ditawarkanlah konsep ekonomi Islam atau ekonomi syari’ah sebagai suatu alternative bagi negara-negara muslim. Suatu konsep yang memiliki potensi untuk berhasil dalam mendorong pembangunan yang berkeadilan, membawa masyarakat kepada kesejahteraan yang diridhoi Allah swt. Insya Allah.
Karakteristik ekonomi Islam ditandai dari berbagai variabel antara lain :
- Tujuan. Tujuan ekonomi Islam adalah tujuan dari syari’at Islam itu sendiri yakni ” maqoshid asy-syari’ah ” yaitu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
- Moral. Sebagai pilar ekonomi Islam, yakni nilai-nilai dan prinsip yang sesuai dengan sistem ajaran Islam.
- Nilai Dasar. Nilai dasar ekonomi Islam adalah keadilan, khilafah dan takaful.
- Prinsip. Prinsip ekonomi Islam mengandung unsur antara lain : resourse utilization, compentation, efficency, profesionalisme, sufficiency, equal opportunity, freedom, cooperation, competition, equilibrium, solidarity, symmetric information.
- Basis kebijakan. Basis kebijakan ekonomi Islam adalah penghapusan riba, pelembagaan zakat, pelarangan gharar, maisir, monopoli serta pelarangan yang haram.
- Paradigma. Paradigma ekonomi Islam meliputi paradigma berfikir dan berperilaku.
Oleh karena itu, sistem ekonomi ini nilai –nilai dan karakteristiknya adalah robbaniyah, akhlaqiyah, civilized, insaniyah dan bermoral. Karena bertumpu pada kesadaran bahwa sumber daya dan alam semesta ini adalah milik Allah Swt dan di amanahkan kepada manusi untuk mencapai al-falah, sehingga dalam pengelolaannya harus dalam rangka mencari ridha-Nya.(dien)
Rabu, 17 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar